{"id":14224,"date":"2026-09-16T02:04:04","date_gmt":"2026-09-16T02:04:04","guid":{"rendered":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/?p=14224"},"modified":"2026-09-16T02:32:10","modified_gmt":"2026-09-16T02:32:10","slug":"riset-mahasiswa-ulm-ungkap-paradoks-kesehatan-pekerja-prostitusi-daring-sadar-risiko-belum-konsisten-mencegah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/riset-mahasiswa-ulm-ungkap-paradoks-kesehatan-pekerja-prostitusi-daring-sadar-risiko-belum-konsisten-mencegah\/","title":{"rendered":"Riset Mahasiswa ULM Ungkap Paradoks Kesehatan Pekerja Prostitusi Daring: Sadar Risiko, Belum Konsisten Mencegah"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p>BANJARBARU \u2014 Di tengah pesatnya perkembangan platform digital, praktik prostitusi daring menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat, khususnya dalam pencegahan infeksi menular seksual (IMS) dan HIV. Di balik tingginya pengetahuan mengenai risiko, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan perilaku perlindungan diri.<\/p>\n<p>Temuan tersebut diungkap Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melalui penelitian berjudul <em>Faith, Fear, and the Hidden Health Paradox<\/em>: Analisis Disonansi Kognitif terhadap Kesadaran Risiko Seksual pada Pekerja Prostitusi Daring. Penelitian menggunakan desain <em>mixed methods sequential explanatory<\/em> dengan melibatkan 90 responden melalui survei kuantitatif dan wawancara mendalam.<\/p>\n<p>Hasil riset menunjukkan 58,9 persen responden memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko kesehatan seksual. Namun, pemahaman tersebut belum selalu diwujudkan dalam perilaku pencegahan yang konsisten. Penelitian juga menemukan 56,7 persen responden mengalami disonansi kognitif, yakni konflik batin antara tuntutan ekonomi, keyakinan pribadi, rasa bersalah, dan kekhawatiran terhadap risiko penyakit.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH.png\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter size-full wp-image-14225\" src=\"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH.png\" alt=\"\" width=\"939\" height=\"704\" srcset=\"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH.png 939w, https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH-300x225.png 300w, https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH-768x576.png 768w, https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/09\/PKM-RSH-600x450.png 600w\" sizes=\"(max-width: 939px) 100vw, 939px\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Ketua Tim PKM-RSH ULM, Amelia Rahma, menjelaskan bahwa persoalan utamanya bukan sekadar kurangnya pengetahuan, melainkan adanya hambatan sosial dan ekonomi yang memengaruhi keputusan sehari-hari.<\/p>\n<p>\u201cKesadaran risiko sudah cukup tinggi, tetapi kemampuan untuk menerapkan perilaku pencegahan sering kali terbentur tekanan ekonomi dan situasi kerja yang tidak selalu dapat dikendalikan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Berlandaskan Teori Disonansi Kognitif Festinger dan <em>Health Belief Model<\/em> (HBM), penelitian ini menemukan bahwa rasa takut terhadap penyakit dapat menjadi pendorong perilaku protektif. Beberapa responden mengaku lebih selektif memilih pelanggan, menegosiasikan penggunaan kondom, hingga memiliki keinginan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.<\/p>\n<p>Temuan ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan saja belum cukup untuk menurunkan risiko IMS dan HIV. Dukungan psikososial, jaring pengaman sosial, serta layanan kesehatan yang inklusif dan bebas stigma menjadi faktor penting agar pengetahuan dapat berubah menjadi tindakan pencegahan yang berkelanjutan.<\/p>\n<p>Riset ini memperlihatkan bahwa keputusan terkait kesehatan seksual tidak hanya dipengaruhi oleh aspek medis, tetapi juga oleh realitas ekonomi, kondisi psikologis, dan tekanan sosial. Karena itu, strategi pencegahan yang lebih komprehensif dan tidak menghakimi diperlukan untuk menjangkau kelompok rentan secara lebih efektif.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; BANJARBARU \u2014 Di tengah pesatnya perkembangan platform digital, praktik prostitusi daring menghadirkan tantangan baru bagi kesehatan masyarakat, khususnya dalam&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14227,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[5],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14224"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14224"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14224\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14229,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14224\/revisions\/14229"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14227"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14224"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14224"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14224"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}