{"id":447,"date":"2017-05-12T03:59:54","date_gmt":"2017-05-12T03:59:54","guid":{"rendered":"http:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/?p=447"},"modified":"2017-05-12T03:59:54","modified_gmt":"2017-05-12T03:59:54","slug":"faktor-risiko-yang-berhubungan-dengan-kejadian-pendek-pada-anak-usia-6-24-bulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/faktor-risiko-yang-berhubungan-dengan-kejadian-pendek-pada-anak-usia-6-24-bulan\/","title":{"rendered":"FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENDEK PADA ANAK USIA 6-24 BULAN"},"content":{"rendered":"<p>Berdasarkan data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi kejadian pendek di Indonesia mencapai 36,8%, Kalimantan Selatan 45%, dan Kabupaten Amuntai Tengah 51%<br \/>\ndimana ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (\u2265 20%). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor risiko kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan<br \/>\nyang dilakukan pada tahun 2014. Desain penelitian adalah <i>cross<\/i>&#8211;<i>sectional <\/i>dengan besar<br \/>\nsampel sejumlah 117, populasinya merupakan ibu-ibu yang memiliki anak berusia 6-24<br \/>\nbulan dan sampel terdiri dari anak yang berusia 6-24 bulan. Analisis data bivariat menggunakan uji <i>chi square <\/i>dengan <i>Confidance Interval <\/i>(CI) 95%. Hasil analisis menunjukkan<br \/>\ntidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu (p=0,873), tinggi badan ayah (p=0,880),<br \/>\ndan tinggi badan ibu (p=0,123), serta terdapat hubungan antara riwayat status BBLR<br \/>\n(p=0,015) dengan kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan. Anak dengan berat badan<br \/>\nlahir yang rendah memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami kejadian pendek.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>artikel selengkapnya silakan download disini<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/jurnal-nasional-bereputasi-kemas-unes-2016-Atikah-Rahayu-SKM.MPH_.pdf\">jurnal nasional bereputasi kemas unes 2016 (Atikah Rahayu, SKM.,MPH)<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berdasarkan data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi kejadian pendek di Indonesia mencapai 36,8%, Kalimantan Selatan 45%, dan Kabupaten Amuntai Tengah 51%&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[1],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=447"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":449,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/447\/revisions\/449"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=447"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=447"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kesmas.ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=447"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}