Beberapa orang ada yang ‘hobi’ mengunyah es batu. Padahal, saat kebiasaan ini kerap dilakukan, ada efek negatif yang bisa terjadi pada gigi.
“Saat mengunyah es batu, pada dasarnya sama saja seperti Anda mengunyah batu. Ketika melakukannya, Anda bisa dengan mudah mematahkan gigi atau bahkan mengikis lapisan gigi,” kata Jonathan Schwartz, DDS, dokter gigi dari Manhattan Dental Health.
Dikutip dari Men’s Health, Schwartz mengingatkan meski gigi berbentuk keras, tapi gigi tidak dirancang untuk menahan tekanan seperti ‘hantaman’ es batu. Sama halnya ketika seseorang menggunakan giginya sebagai alat untuk membuka botol. Bagaimanapun, risiko kerusakan pada gigi bisa terjadi.
Sementara, Dr James Jacobs dari University of Pennsylvania and Columbia University, mengatakan mengunyah sesuatu yang dingin dan keras seperti es berpotensi mengejutkan saraf di gigi. Pada akhirnya, bisa terjadi kerusakan saraf gigi bahkan sampai membutuhkan terapi di saluran akar gigi.
Selain itu, menurut Jacobs patut diingat bahwa gigi tidak rata sehingga, ketika mengunyah sesuatu permukaan atas gigi akan memfasilitasi gerakan mengunyah yang dilakukan. Nah, ketika sepotong es berada di antara gigi dan Anda mengigit atau mengunyahnya dalam sudut yang tak tepat, ada risiko pengikisan enamel gigi.
“Tekanan dan gesekan yang terlalu kuat pada gigi juga bisa berisiko membuat gigi retak dan patah. Untuk itu, sebaiknya hindari kebiasaan mengunyah es,” kata Jacobs dikutip dari Everydayhealth.
Dilansir Mayo Clinis, hematolog Ruben Mesa, MD mengatakan jika seseorang cenderung sering mengunyah es, tubuh bisa saja sedang memberi tahu bahwa terjadi kekurangan zat besi. Selain itu, Mesa menekankan bahwa pengunyah es lebih mungkin memiliki masalah emosional seperti tingkat stres yang tinggi bahkan gangguan obsesif-kompulsif.
“Kadang dokter menggunakan istilah pica untuk kondisi ini. Nah, evaluasi medis menyeluruh bisa membantu menentukan apakah pica ini disebabkan kondisi medis yang mendasari. Jika memang penyebabnya masalah emosional atau perkembangan psikologi, cognitive behavioral therapy bisa membantu,” kata Mesa.
sumber:health.detik.com
