Berdasarkan data Riskesdas (2013) menunjukkan prevalensi kejadian pendek di Indonesia mencapai 36,8%, Kalimantan Selatan 45%, dan Kabupaten Amuntai Tengah 51%
dimana ini sudah menjadi masalah kesehatan masyarakat (≥ 20%). Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor risiko kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan
yang dilakukan pada tahun 2014. Desain penelitian adalah cross–sectional dengan besar
sampel sejumlah 117, populasinya merupakan ibu-ibu yang memiliki anak berusia 6-24
bulan dan sampel terdiri dari anak yang berusia 6-24 bulan. Analisis data bivariat menggunakan uji chi square dengan Confidance Interval (CI) 95%. Hasil analisis menunjukkan
tidak ada hubungan antara status pekerjaan ibu (p=0,873), tinggi badan ayah (p=0,880),
dan tinggi badan ibu (p=0,123), serta terdapat hubungan antara riwayat status BBLR
(p=0,015) dengan kejadian pendek pada anak usia 6-24 bulan. Anak dengan berat badan
lahir yang rendah memiliki risiko 5,87 kali untuk mengalami kejadian pendek.
artikel selengkapnya silakan download disini
jurnal nasional bereputasi kemas unes 2016 (Atikah Rahayu, SKM.,MPH)
