
Foto bersama Kelompok 14 PBL PSKM FKIK ULM Angkatan 2023, dan Warga Desa Abirau pada hari Minggu, 10 Agustus 2025
Banjarbaru – 17/09/2025 Air minum aman masih menjadi persoalan serius bagi masyarakat pedesaan. Hasil diagnosis komunitas yang dilakukan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Desa Abirau, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, menemukan bahwa sekitar 28% warga masih mengonsumsi air tanpa diolah dan 68% hanya kadang-kadang mengolah air minumnya. Kondisi ini meningkatkan risiko penyakit berbasis air, seperti diare, kolera, hingga tifus. Data dari Puskesmas Karang Intan II tahun 2024 bahkan mencatat 191 kasus diare, menjadikannya salah satu dari sepuluh besar penyakit terbanyak di wilayah tersebut.
Melihat permasalahan ini, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM melaksanakan kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) II melalui program bertajuk “AMDAL: Air Minum Diolah, Aman dan Layak”. Kegiatan ini diselenggarakan pada Minggu, 10 Agustus 2025, di Polindes Desa Abirau dengan melibatkan 32 peserta dari RT 01, 02, dan 03. Peserta terdiri dari ibu rumah tangga, pelajar, hingga aparat desa yang menjadi sasaran utama dalam upaya meningkatkan kesadaran pentingnya pengolahan air minum.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga, pelajar, hingga aparat desa. Kehadiran mereka mencerminkan kesadaran awal bahwa persoalan air minum aman tidak bisa dianggap remeh. Melalui kegiatan ini, mahasiswa berupaya membangun pemahaman masyarakat bahwa pengolahan air bukan hanya sekadar kebiasaan tambahan, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan keluarga.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan penyuluhan mengenai pentingnya air minum yang aman. Mahasiswa menjelaskan berbagai metode pengolahan air sederhana yang bisa diterapkan di rumah tangga, seperti perebusan, penyaringan, penggunaan kaporit, hingga metode SODIS. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar masyarakat mudah memahami dan termotivasi untuk menerapkannya. Setelah penyuluhan, peserta diberikan kesempatan untuk berdiskusi serta mengajukan pertanyaan seputar kebiasaan sehari-hari mereka dalam mengonsumsi air.

Pemberian Materi dari Kelompok 14
Selanjutnya dilakukan pelatihan berupa demonstrasi perebusan air. Peserta diajak melihat secara langsung tahapan perebusan dan manfaat yang diperoleh. Metode ini dipilih karena sederhana, dapat dilakukan oleh semua rumah tangga, serta terbukti mampu membunuh sebagian besar kuman penyebab penyakit. Meskipun peralatan yang tersedia terbatas, masyarakat terlihat antusias untuk ikut mencoba praktik langsung. Hal ini menunjukkan adanya minat tinggi untuk belajar sekaligus menerapkan kebiasaan baru yang lebih sehat.

Demonstrasi Pengolahan Air Minum Sederhana dan Pengecekan pH dan TDS
Kegiatan juga disertai pemilihan Duta Air Minum, yaitu seorang warga yang dipercaya menjadi teladan dan penggerak perubahan di lingkungannya. Duta ini diharapkan dapat melanjutkan peran mahasiswa dalam mengingatkan serta memotivasi masyarakat agar konsisten mengolah air minum sebelum dikonsumsi. Selain itu, mahasiswa memperkenalkan sistem monitoring sederhana melalui checklist rumah tangga yang dapat digunakan untuk menilai apakah warga sudah melakukan pengolahan air minum dengan benar.

Penyerahan Selempang Duta Air Minum dan Modul AMDAL kepada Warga yang Terpilih, Ibu Budiasih
Meskipun sempat menghadapi hambatan berupa hujan yang mengakibatkan keterlambatan peserta hadir, serta terbatasnya jumlah alat praktik sehingga tidak semua peserta bisa mencoba secara langsung, kegiatan tetap berlangsung lancar. Semangat warga tidak surut sedikit pun. Mereka tetap antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai, bahkan beberapa warga memberikan testimoni positif bahwa kegiatan ini membuka wawasan mereka tentang pentingnya air minum yang aman.
Menurut Siti Nurun Nafisah, ketua pelaksana kegiatan, program ini menjadi langkah awal perubahan. “Air yang tampak jernih belum tentu aman diminum. Dengan membiasakan perebusan, kita bisa mencegah diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui air,” ungkapnya. Sementara itu, Kepala Desa Abirau, Muhammad Pauzan, memberikan apresiasi tinggi. “Program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat kami. Semoga warga semakin sadar pentingnya mengolah air agar keluarga terhindar dari penyakit,” ucapnya.
Mahasiswa berharap melalui kegiatan ini masyarakat Desa Abirau dapat mengubah kebiasaan lama yang berisiko menjadi kebiasaan sehat yang bermanfaat jangka panjang. Kebiasaan sederhana seperti merebus air diharapkan menjadi budaya baru yang konsisten dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan aparat desa, kader kesehatan, serta peran aktif Duta Air Minum, program ini diharapkan dapat berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi penurunan kasus penyakit berbasis air di Desa Abirau.
Kegiatan PBL II ini juga menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa dapat menciptakan perubahan positif. Mahasiswa ULM tidak hanya mendapatkan pengalaman belajar di lapangan, tetapi juga berkontribusi langsung dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui program “AMDAL: Air Minum Diolah, Aman dan Layak”, Desa Abirau kini memiliki harapan baru untuk menuju lingkungan yang lebih sehat, aman, dan terbebas dari penyakit yang ditularkan melalui air.
Penyerahan Doorprize kepada Masyarakat yang Terpilih
Hasil kegiatan dapat dilihat dari adanya peningkatan pemahaman masyarakat melalui penyuluhan dan praktik perebusan air, di mana warga mulai memahami pentingnya mengolah air sebelum dikonsumsi. Selain itu, hasil monitoring sederhana juga menunjukkan adanya perubahan positif di lingkungan rumah tangga, yang terlihat dari semakin banyaknya warga yang mulai membiasakan diri merebus air minum setiap hari.
Penulis: Siti Nurun Nafisah
Tanggal Penulisan: 17 September 2025
