
Foto bersama Kelompok 12 PBL PSKM FKIK ULM Angkatan 2023, Ibu-ibu Rumah Tangga, dan
Kader Desa Sungai Asam pada hari Kamis, 14 Agustus 2025
Kabupaten Banjar – 17/09/2025 Pengelolaan sampah di Indonesia masih menjadi permasalahan serius, terutama yang berasal dari rumah tangga sebagai penyumbang terbesar timbulan sampah. Indonesia menghadapi tantangan besar dalam mengatasi persoalan ini. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, timbulan sampah nasional pada tahun 2024 mencapai sekitar 35,31 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 37,53% yang berhasil ditangani dengan baik melalui sistem pengelolaan sampah seperti TPA terkendali, pemrosesan organik, daur ulang, dan fasilitas pendukung lainnya. Sisanya masih belum tertangani secara memadai, sehingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan dan kesehatan.
Menurut data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2021, provinsi ini menghasilkan sekitar 1,5 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 60% di antaranya merupakan sampah rumah tangga. Namun, hanya sekitar 20% dari total sampah yang dikelola dengan baik, sementara sisanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau mencemari lingkungan.

Penyampaian materi oleh Alya Permatasari mengenai Pemilahan Sampah dan Biopori
Menyadari pentingnya hal tersebut, mahasiswa/i Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan bertajuk “Pemberdayaan Ibu Rumah Tangga Melalui Trashtic” di Desa Sungai Asam RT 01, 02, dan 03, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar pada 14 Agustus 2025. Sasaran kegiatan ini adalah ibu rumah tangga dan kader desa, dengan jumlah peserta sekitar 30 orang.

Pelatihan Pembuatan Trashtic kepada Ibu Rumah Tangga dan Kader di Sungai Asam
Kegiatan penyuluhan ini berfokus pada dua intervensi utama. Pertama, praktik pembuatan tong sampah dari botol plastik bekas yang dapat digunakan di rumah. Kedua, edukasi mengenai pemilahan sampah dengan sistem biopori, yakni metode sederhana dan murah untuk mengolah sampah organik agar menjadi kompos sekaligus mencegah genangan air.
Peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan, mulai dari proses pembuatan tong sampah hingga penyuluhan mengenai biopori. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami jadi tahu cara mengelola sampah rumah tangga dengan sederhana. Selain lingkungan jadi bersih, hasilnya juga bisa dipakai kembali untuk tanaman,” ungkap salah satu ibu rumah tangga peserta penyuluhan.
Selain itu, peserta juga menunjukkan semangat yang tinggi dalam mengerjakan pre-test dan post-test yang diberikan. Pada saat pre-test, mereka tampak serius membaca setiap pertanyaan dan berusaha menjawab sesuai dengan pengetahuan awal yang dimiliki. Setelah kegiatan penyuluhan selesai, antusiasme kembali terlihat pada saat post-test, di mana peserta merasa lebih percaya diri karena memperoleh pemahaman baru mengenai pengelolaan sampah dan pembuatan biopori. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sekaligus kesadaran peserta terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Hasil evaluasi post-test juga memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dibandingkan saat pre-test, yang menandakan bahwa kegiatan ini efektif dalam menambah wawasan dan keterampilan masyarakat terkait pengelolaan sampah. Melalui kegiatan ini, diharapkan ibu rumah tangga dapat menjadi teladan dalam pemilahan sampah di rumah masing-masing, serta kader desa dapat mendampingi masyarakat agar terbentuk kebiasaan kolektif menjaga kebersihan lingkungan. Program Trashtic ini juga menjadi langkah kecil menuju desa yang lebih sehat, bersih, dan berkelanjutan.
Penulis: Novyananda Aulya Zahra
Tanggal Penulisan: 17 September 2025
