
Foto bersama Kelompok 11 PBL PSKM FKIK ULM Angkatan 2023
dan remaja putri Desa Sungai Alang pada hari Sabtu, 09 Agustus 2025
Kabupaten Banjar – 17/09/2025 Anemia masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama pada kalangan remaja putri. Kondisi ini ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sehingga penderitanya mudah merasa lelah, lemas, hingga mengalami gangguan konsentrasi. Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga menurunkan prestasi belajar serta produktivitas remaja di masa pertumbuhan.
Secara global, masalah ini cukup mengkhawatirkan. Data WHO tahun 2019 mencatat prevalensi anemia pada wanita usia 15–49 tahun sebesar 29,9%, sedangkan pada anak usia 6–59 bulan mencapai 39,8%. Riskesdas 2018 juga mencatat prevalensi anemia pada anak usia 5–14 tahun di Indonesia mencapai 26,8%. Bahkan, wilayah Asia Tenggara tercatat sebagai kawasan dengan prevalensi anemia tertinggi di dunia pada tahun 2022, yakni mencapai 42%. Di Kalimantan Selatan, hasil pemeriksaan Hb tahun 2019 menunjukkan prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 42,45%, sebuah angka yang cukup tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Kondisi serupa juga terlihat di Kecamatan Karang Intan 2, Kabupaten Banjar. Data Puskesmas mencatat bahwa meski 57,17% remaja telah menerima tablet tambah darah (TTD), hasil survei mawas diri menunjukkan 60% dari 30 remaja yang disurvei masih mengalami anemia. Fakta ini menjadi alarm penting bahwa intervensi lebih intensif diperlukan, khususnya di tingkat remaja putri sebagai kelompok rentan.
Menjawab urgensi tersebut, mahasiswa/i Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan kegiatan penyuluhan sekaligus pembentukan komunitas “Anemia Free Generation” pada 9 Agustus 2025 di Desa Sungai Alang, Kecamatan Karang Intan 2.
Komunitas ini bukan sekadar forum biasa, melainkan gerakan nyata yang mengajak remaja untuk berani berkata “tidak” pada anemia dan “ya” pada gaya hidup sehat. Anemia Free Generation hadir sebagai ruang belajar, berbagi, sekaligus saling mendukung, agar remaja bisa tumbuh menjadi generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan siap bersaing.
Acara yang diikuti oleh 30 remaja putri ini diawali dengan pemaparan mengenai latar belakang, fungsi, manfaat, hingga tujuan dibentuknya komunitas. Edukasi seputar bahaya anemia, pentingnya konsumsi tablet tambah darah, serta pola makan sehat disampaikan secara interaktif dengan pendekatan dunia remaja, sehingga pesan lebih mudah diterima.
Kegiatan ini merupakan bagian dari intervensi Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 2, yang dijalankan oleh mahasiswa ULM sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Kelompok penyelenggara terdiri dari Reyvina Tantya Kamila, Alfitri Chellyadiza, dan Muhammad Andrian Agusetiawan, dengan dosen pembimbing Bapak Ihya Hazairin Noor, SKM., MPH.

Pemaparan pembentukan komunitas oleh kelompok 11 pada remaja putri Desa Sungai Alang
Selain meningkatkan pengetahuan, hasil kegiatan juga terlihat nyata dari perbandingan skor pre-test dan post-test. Rata-rata skor peserta mengalami peningkatan setelah diberikan penyuluhan, yang menunjukkan bahwa penyampaian informasi berhasil dipahami dengan baik oleh remaja putri.
Apresiasi tinggi juga datang aparat Desa Sungai Alang. “Kami berharap melalui adanya kegiatan ini dapat bermanfaat bagi remaja putri di Desa Sungai Alang, agar lebih sadar dan mau membiasakan konsumsi tablet tambah darah secara rutin demi pencegahan anemia,” ujar Pembakal Desa Sungai Alang.

Tim Tensi melakukan pengecekan Hb remaja putri Desa Sungai Alang
Kegiatan juga diselingi dengan pengecekan kadar Hb peserta, agar remaja putri bisa mengetahui kondisi kesehatannya secara langsung. Pendekatan ini membuat mereka lebih sadar pentingnya menjaga kesehatan darah, sekaligus memahami konsekuensi jika anemia tidak dicegah sejak dini.
Melalui rangkaian edukasi, pengecekan Hb, dan pembentukan komunitas Anemia Free Generation, Desa Sungai Alang menegaskan komitmennya untuk mencetak generasi muda yang sehat dan bebas anemia. Lebih jauh, komunitas ini diharapkan dapat menjadi wadah berkelanjutan bagi remaja dalam berbagi informasi, saling mengingatkan, dan membangun kebiasaan sehat.
Komunitas Anemia Free Generation memiliki semangat perubahan untuk remaja yang tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga motor penggerak gerakan sehat. Keuntungan yang diharapkan tidak berhenti pada peningkatan kesehatan individu, tetapi juga berkontribusi pada penurunan angka anemia di daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta terciptanya generasi produktif yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.
Melalui semangat kolaborasi, Anemia Free Generation menjadi bukti bahwa remaja desa pun bisa memimpin gerakan perubahan besar, mulai dari langkah sederhana seperti rutin konsumsi TTD, makan bergizi, dan saling menjaga.
Penulis: Alfitri Chellyadiza
Tanggal Penulisan: 17 September 2025
