
Foto bersama Kelompok 7 PBL PSKM FKIK ULM Angkatan 2023, warga RT. 3, RT.4, dan Bapak/Ibu Aparat Desa
dalam penyuluhan bahaya asap rokok pada hari Minggu, 10 Agustus 2025
Kabupaten Banjar – 17/09/2025 Bahaya rokok pasif masih menjadi masalah serius yang sering diabaikan dalam lingkungan keluarga. Padahal, asap rokok yang terhirup oleh anak-anak dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk infeksi saluran pernapasan, asma, bahkan gangguan tumbuh kembang. Bahaya asap rokok masih menjadi ancaman kesehatan serius di Indonesia. Data WHO 2023 menyebutkan bahwa asap rokok mengandung lebih dari 7.000 bahan kimia, dengan 69 di antaranya bersifat karsinogenik (pemicu kanker). Menurut Kemenkes RI (2022), perokok pasif memiliki risiko 25–30% lebih tinggi terkena penyakit jantung dibandingkan yang tidak terpapar. Selain itu, paparan asap rokok pada anak-anak menyebabkan 40% kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan meningkatkan risiko asma hingga 30%.
Riset Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 juga mencatat bahwa 78% masyarakat Indonesia terpapar asap rokok di rumah tangga, sedangkan 51% terpapar di tempat umum. Kondisi ini memperkuat temuan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahwa setiap tahun terdapat sekitar 230 ribu kematian dini akibat paparan asap rokok. Meski sosialisasi tentang kawasan tanpa rokok terus dilakukan, tingkat kepatuhan masyarakat masih rendah, sehingga bahaya asap rokok tetap meluas dan mengancam kesehatan. Menyadari hal tersebut, mahasiswa/i Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan rangkaian kegiatan penyuluhan kesehatan kepada ibu-ibu yang memiliki anak balita di Desa Mandiangin Timur.
Menyadari pentingnya hal tersebut, mahasiswa/i Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan kegiatan penyuluhan bertajuk “CERIA (Cegah Rokok utnuk Hidup Sehat dan Bahagia)” di Polindes, Desa Mandiangin Timur, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar pada 10, 13, dan 14 Agustus 2025. Sasaran kegiatan penyuluhan ini adalah para ibu-ibu (perokok pasif) dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang, yang menjadi target utama dalam upaya peningkatan pengetahuan tentang bahaya merokok kepada perokok pasif serta pencegahan perilaku merokok sejak dini.
Kegiatan ini merupakan bagian dari intervensi Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 2, yang dijalankan oleh mahasiswa ULM sebagai bentuk pengabdian masyarakat. Kelompok penyelenggara terdiri dari Raditya Ghaitsa A.G, Dinda Oktavia Ferdayani, dan Nurul Hasanah, dengan dosen pembimbing Ibu Fahrini Yulidasari, SKM., MPH.

Penyampaian materi oleh Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FKIK ULM, Raditya Ghaitsa A.G
Sebagai pemateri utama, penyuluhan menghadirkan Raditya Ghaitsa A.G, Wakil I Duta GenRe Putra Banjarbaru 2024. Dalam pemaparannya, ia menekankan dampak asap rokok terhadap tumbuh kembang balita serta pencegahan paparan asap di rumah. “Asap rokok lebih berbahaya bagi perokok pasif karena kandungan zat beracun sama bahkan lebih tinggi dan juga durasi pada paparan sering lebih lama jika terus-menerus menghirup asap tersebut,” ujar Raditya Ghaitsa A.G, sebagai Ketua Kelompok 7 serta Wakil I Duta GenRe Putra Banjarbaru 2024.
Tidak hanya penyampaian materi bahaya asap rokok, kegiatan kedua juga mampu meningkatkan kesadaran perokok pasif yaitu dengan adanya pelatihan pembuatan ramuan pengharum alami berbahan kayu manis, daun jeruk, dan jeruk nipis segar. Ramuan ini dapat bertujuan untuk membantu mengurangi bau asap rokok di dalam rumah, sekaligus memberikan aroma atau suasanan segar yang aman dan nyaman bagi keluarga.
Foto bersama Kelompok 7 PBL PSKM FKIK ULM Angkatan 2023, warga RT. 3, dan RT.4, dalam pelatihan pembuatan ramuan pengharum alami pada hari Rabu, 13 Agustus 2025
Selain kegiatan edukasi dan pelatihan, pihak aparat desa juga menegaskan bahwa mereka memiliki beberapa stiker Kawasan Tanpa Rokok tetapi belum ditempelkan pada tempat strategis di desa. Maka dari itu, penempelan stiker KTR di dekat rumah-rumah warga serta beberapa titik strategis di lingkungan desa. Stiker ini diharapkan menjadi pengingat dan dorongan nyata bagi keluarga untuk menciptakan rumah yang sehat bebas asap rokok.

Penempelan Stiker Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dilakukan oleh Kelompok 7 PBL bersama Aparat Desa pada hari Kamis, 14 Agustus 2025
Pihak aparat desa menyampaikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ini. “Kami berharap ibu-ibu yang mengikuti penyuluhan ini benar-benar dapat menerapkan ilmu yang sudah didapat di rumah masing-masing. Anak-anak adalah generasi penerus yang harus kita jaga bersama, jangan sampai mereka menjadi korban asap rokok. Dengan adanya stiker Kawasan Tanpa Rokok dan ramuan alami yang dipraktikkan hari ini, semoga ibu-ibu semakin semangat menciptakan rumah yang sehat, aman, dan nyaman bagi keluarga” ujarnya.
Selain itu, pihak desa juga menekankan pentingnya peran ibu sebagai pengingat bagi anggota keluarga, khususnya suami, agar tidak merokok di dalam rumah. “Ibu-ibu adalah benteng pertama perlindungan anak-anak. Kami sangat mendukung langkah-langkah kecil ini untuk menuju perubahan besar, yaitu lingkungan desa yang bebas dari asap rokok,” tambahnya.
Para peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan. Mereka aktif bertanya saat penyuluhan, dan senang ketika mempraktikkan langsung pembuatan ramuan pengharum alami. Seorang ibu peserta, mengatakan, “Saya baru tahu kalau asap rokok bisa sebahaya itu untuk anak-anak. Stiker KTR di rumah saya akan jadi pengingat penting, dan ramuan alami ini sangat membantu.”
Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan hasil yang menggembirakan. Pengetahuan para ibu mengenai bahaya rokok pasif meningkat, komitmen keluarga untuk menjaga rumah bebas asap rokok cukup kuat, serta tercipta solusi praktis berupa ramuan alami yang dapat diterapkan sehari-hari. Antusiasme peserta selama kegiatan juga menunjukkan bahwa masyarakat sangat membutuhkan edukasi semacam ini. Selain itu, setelah kegiatan berakhir, muncul semangat kebersamaan di antara warga untuk saling mengingatkan dan menjaga lingkungan rumah tangga yang sehat demi melindungi generasi penerus dari bahaya rokok.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, mahasiswa berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya rokok pasif semakin meningkat, dan semakin banyak keluarga yang berkomitmen untuk menciptakan rumah sehat bebas asap rokok.
Penulis: Nurul Hasanah
Tanggal Penulisan: 17 September 2025
